Halaman

Senin, 18 Juli 2011

Come from nothing

Hujan menyapa manusia-manusia yang berjalan cepat pada senja musim panas ini. Aku berdiri menikmati terpaan angin juli bersama kabut tipis yang menggantung di tempat asing bersama orang-orang yang juga asing. Kami berbicara dalam bahasa yang berbeda, dengan kepentingan yang juga berbeda.

Pada suatu titik dalam basa-basi sore yang sibuk itu, dia mengacak rambutnya yang pirang dan menghisap rokok nya dalam-dalam, dan aku menghembuskan napasku kencang-kencang. "I come from London, how about you?"

Aku ingat bertemu dua doktor yang hebat kemaren, aku ingat membaca note seorang kawan dengan kedalaman pemikirannya yang tidak pernah mampu aku lihat sebelumnya, aku ingat pengamen di stasiun munchen freiheit... Dan aku kembali menarik napas setelah membiarkan paru-paruku kosong beberapa saat.

"I came from nothing"

Dia tersenyum, aku tersenyum dan meninggalkannya dengan tatapan yang masih menghujam tajam di punggungku.

"it is also rainy in London"

Aku masih mendengar suaranya di selingi suara hujan dan langkah-langkah kaki...

Dan hujan akan selalu turun, menghapus jejak kemarin.... Menumbuhkan tunas-tunas baru... Dan membunuh bilamana perlu.

Minggu, 03 Juli 2011

Dan manakah yang menjadi tujuanmu??

Ada satu ketika ketika aku ingin menjadi sedemikian sempurna, atau setidaknya, aku tidak ingin ada orang yang memaki karena aku. Jangan salahkan aku, begitu namanya lumrah, diajarkan budaya disesaki dogma.

kemudian aku lalui jalan setapak di pematang gunung, menyusuri lembah-lembah dingin dan menghitung kerlip bintang malam di pesisir-pesisir laut mana saja yang bisa aku jumpai. desau angin dan riak sungai adalah teman, harmoni mereka tak pernah berubah kendati kau marah atau kecewa. Dia yang selalu bernyanyi dengan melodinya sendiri... tak pernah berubah kendati kau diam atau banyak bicara.

Desau angin dan riak sungai adalah guru, yang mengajari aku untuk berpegang teguh pada keyakinanku. Biarkan manusia menggugatmu, dan kebenaran hanyalah tuhan yang tahu.

Berbaik-baiklah dengan hati, bermain dengan pikiran kadangkala menjadi berbahaya saat kita terlalu peduli pada pandangan mereka-mereka, sedang kebaikan hanya tuhan sajalah yang menghitung segala.

Desau angin dan riak sungai juga mengajariku satu hal lagi... yaitu agar aku membagi rahasia ini denganmu... bahwasanya kita tidak akan pernah menjadi sempurna.

Kemarilah,... rapatkan bahumu ke dadaku... peluk aku erat-erat dengan seluruh jiwamu dan cukupkan hatimu dengan cintaku... lalu kita akan bersama-sama menikmati desau angin dan riak sungai ini.

-Singapore river, 04 07 2011

Jumat, 24 Juni 2011

Totalitas

mungkin jarang sekali saya bekerja dalam jangka waktu yang panjang dengan orang-orang asing. sekali waktu pernah hampir seminggu satu ruangan bersama warga negara afrika selatan, seorang programmer yang datang dengan programnya dan kemudian kami terlibat diskusi yang cukup panjang dan alot, tidak bisa dibilang tidak menarik :) tapi dia tidak jauh berbeda dengan kami kebanyakan di divisi ini; urakan, santai, deadliner :p

kali ini perjalanan hidup mengharuskan saya berurusan dengan seorang etnis cina warga negara Singapura. di mengurusi perjalanan bisnis yang harus saya jalani beberapa minggu lagi. saya dan dia hanya bertemu sekali waktu di ruang rapat dalam suasana formal, cukup tau wajah dan namanya itu saja.

kontak selanjutnya lewat email dengan embel-embel nama perusahaan masing-masing di belakangnya. dia yang mengurusi segala urusan kami di negaranya, dan kali ini selayaknya klien, saya dan kolega pasif saja menunggu apa yang diberikan, hari ini... rasanya saya harus malu.

dia seorang client portfolio manager perusahaan ternama di industri ini yang menjadi tuan rumah kami. aku tidak tau pasti berapa umurnya, yang jelas masih cukup muda. kesibukannya tentu tidak main-main di sana, dengan cakupan bisnis asia. tapi bukan sekedar undangan formal yang dikirimkan ke kami, bukan sekedar pemberitahuan mengenai training yang harus kami jalani. bahkan dia menyadari ini pertama kali kami mengunjungi kantor pusatnya, dia memberikan informasi dari jalan hingga rekomendasi makanan bahkan tanpa diminta sama sekali. begitu seriusnya dan telitinya dia mempersiapkan keperluan kami.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

aku menghitung waktuku yang habis untuk membuka facebook, bermain game, dan menulis blog di kantor....

aku menghitung ketidakseriusan kami mengerjakan amanah yang sudah diberikan....

aku menghitung betapa besar mulutnya kami dengan kapasitas yang tidak seberapa....

lalu aku paham kenapa thesisku salah dan modeling resiko ini tidak pernah mencapai kata stabil...

totalitas tidak diberikan...

"kerjakan dengan effort terbaik yang kamu mampu"... lebih mudah diucapkan dari pada dilaksanakan.

aku belajar satu hal dari orang yang nyaris tidak aku kenal, tapi belajar dan menerapkan adalah dua sisi yang berbeda, kebanyakan kita hanya belajar dan mengerti, namun tidak pernah benar-benar mampu melaksanakan.

totalitas adalah satu rangkaian kata dengan cinta, dan cinta adalah satu rangaian bersama pengabdian.

kamu pun hanya bisa membaca dan tidak bisa benar-benar mengerti apalagi menerapkan maksud saya kali ini. kamu pun seperti saya, terlalu merasa pintar dan memahami dunia yang rumit seisinya... karena kalau kamu mengerti sekarang juga kamu akan menutup blog ini bila menyadari ini masih jam kerja... dan kamu dibayar bukan untuk membaca tulisan sampah di sini :)

"tapi hidup harus santai.... dinikmati...." begitu katamu?? ya terserahlah :)

Minggu, 01 Mei 2011

Penjara

Kami yang diam di pelataran ini adalah kami yang lemah

Sungguh.... Dalam penjaramulah kami telah terperangkap kian dalam di pasrah yang diam.

-28/04/2011

Minggu, 24 April 2011

Tentang Cinta (lagi....)

Ini bukan kereta terakhir, 6.20 bogor menuju jakarta. Kelas rakyat jelata, 2000 rupiah hingga stasiun kota.

Sepasang kekasih harus berdiri, tempat duduk telah penuh. Peluh, lelah, hangat cinta mengalir jadi satu. Berpelukan dalam selimut gaib milik mereka sendiri.

Teriakan pedagang, bising mesin kereta, dan riuh rendah suasana bukan apa-apa. Mereka larut dalam pelukan yang seakan abadi... Menampar kita yang merasa berada, meski miskin waktu bertemu, meski terkungkung mimpi-mimpi duniawi...

Memerdekakan diri ternyata bukanlah hal yang mudah. Aku mencatat dalam diam, seorang pecinta harus merdeka dan memiliki pasangan yang juga merdeka.

Berbahagialah kalian, pasangan pecinta di kereta :)
regard

-M Haikal Sedayo
http://rescogitan.com

Selasa, 19 April 2011

Sukabumi di ujung malam.

Jalan langit, begitu selalu aku menyebut garis yang telah ditentukan, membawaku kembali ke kota ini. Ini kali ke empat aku mencium udara sukabumi, kali pertama saat berkunjung ke rumah seorang kawan sebelum menjelajah pelabuhan ratu, kali kedua saat survey dampak gempa, kali ke tiga bersama keluarga calon istri, dan kali ini saat adik ku yang asli bengkulu, menuntut ilmu di semarang, menikah dengan jejaka sumedang, dan lantas berdomisili serta mengais rezeki di bogor, secara dramatis harus melahirkan di kota ini, di sukabumi.

Kita tidak bisa memilih lahir dari rahim siapa, dan dalam keluarga beragama apa, sama seperti kita tidak bisa memilih di mana kita akan di lahirkan. Tuhan, dengan berbagai perhitungannya memutuskan bahwa jabang bayi ini harus lahir di sini, jauh dari keluarga ku dari keluarga ayahnya, dari teman-teman kami, dari semua yg menunggu kehadirannya selain ayah-ibu nya

Aku membaca kehendak alam dalam peristiwa, kelak... Tumbuhlah dengan gagah keponakanku sayang, hiduplah dalam kontemplasi mu yang dalam... Semakin tinggi kau akan semakin sendiri, temanmu keyakinan, jalanmu kebenaran. Hiduplah penuh kasih sayang, seperti sepertiga malam yang didatangi pencari maha terkasih. Aku tutup malam,... Aku sambut fajar... Doaku menemani kehadiranmu....

Selamat datang... Panggil saya om icoy saja :)
regard

-M Haikal Sedayo
http://rescogitan.com