aku tulis pemahaman, dan pemikiran ku, agar bisa kukenang sedikit lebih lama pada loncatan waktu tak hingga!
Minggu, 03 Juli 2011
Dan manakah yang menjadi tujuanmu??
Jumat, 24 Juni 2011
Totalitas
kali ini perjalanan hidup mengharuskan saya berurusan dengan seorang etnis cina warga negara Singapura. di mengurusi perjalanan bisnis yang harus saya jalani beberapa minggu lagi. saya dan dia hanya bertemu sekali waktu di ruang rapat dalam suasana formal, cukup tau wajah dan namanya itu saja.
kontak selanjutnya lewat email dengan embel-embel nama perusahaan masing-masing di belakangnya. dia yang mengurusi segala urusan kami di negaranya, dan kali ini selayaknya klien, saya dan kolega pasif saja menunggu apa yang diberikan, hari ini... rasanya saya harus malu.
dia seorang client portfolio manager perusahaan ternama di industri ini yang menjadi tuan rumah kami. aku tidak tau pasti berapa umurnya, yang jelas masih cukup muda. kesibukannya tentu tidak main-main di sana, dengan cakupan bisnis asia. tapi bukan sekedar undangan formal yang dikirimkan ke kami, bukan sekedar pemberitahuan mengenai training yang harus kami jalani. bahkan dia menyadari ini pertama kali kami mengunjungi kantor pusatnya, dia memberikan informasi dari jalan hingga rekomendasi makanan bahkan tanpa diminta sama sekali. begitu seriusnya dan telitinya dia mempersiapkan keperluan kami.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
aku menghitung waktuku yang habis untuk membuka facebook, bermain game, dan menulis blog di kantor....
aku menghitung ketidakseriusan kami mengerjakan amanah yang sudah diberikan....
aku menghitung betapa besar mulutnya kami dengan kapasitas yang tidak seberapa....
lalu aku paham kenapa thesisku salah dan modeling resiko ini tidak pernah mencapai kata stabil...
totalitas tidak diberikan...
"kerjakan dengan effort terbaik yang kamu mampu"... lebih mudah diucapkan dari pada dilaksanakan.
aku belajar satu hal dari orang yang nyaris tidak aku kenal, tapi belajar dan menerapkan adalah dua sisi yang berbeda, kebanyakan kita hanya belajar dan mengerti, namun tidak pernah benar-benar mampu melaksanakan.
totalitas adalah satu rangkaian kata dengan cinta, dan cinta adalah satu rangaian bersama pengabdian.
kamu pun hanya bisa membaca dan tidak bisa benar-benar mengerti apalagi menerapkan maksud saya kali ini. kamu pun seperti saya, terlalu merasa pintar dan memahami dunia yang rumit seisinya... karena kalau kamu mengerti sekarang juga kamu akan menutup blog ini bila menyadari ini masih jam kerja... dan kamu dibayar bukan untuk membaca tulisan sampah di sini :)
"tapi hidup harus santai.... dinikmati...." begitu katamu?? ya terserahlah :)
Minggu, 01 Mei 2011
Penjara
Sungguh.... Dalam penjaramulah kami telah terperangkap kian dalam di pasrah yang diam.
-28/04/2011
Minggu, 24 April 2011
Tentang Cinta (lagi....)
Sepasang kekasih harus berdiri, tempat duduk telah penuh. Peluh, lelah, hangat cinta mengalir jadi satu. Berpelukan dalam selimut gaib milik mereka sendiri.
Teriakan pedagang, bising mesin kereta, dan riuh rendah suasana bukan apa-apa. Mereka larut dalam pelukan yang seakan abadi... Menampar kita yang merasa berada, meski miskin waktu bertemu, meski terkungkung mimpi-mimpi duniawi...
Memerdekakan diri ternyata bukanlah hal yang mudah. Aku mencatat dalam diam, seorang pecinta harus merdeka dan memiliki pasangan yang juga merdeka.
Berbahagialah kalian, pasangan pecinta di kereta :)
regard
-M Haikal Sedayo
http://rescogitan.com
Selasa, 19 April 2011
Sukabumi di ujung malam.
Kita tidak bisa memilih lahir dari rahim siapa, dan dalam keluarga beragama apa, sama seperti kita tidak bisa memilih di mana kita akan di lahirkan. Tuhan, dengan berbagai perhitungannya memutuskan bahwa jabang bayi ini harus lahir di sini, jauh dari keluarga ku dari keluarga ayahnya, dari teman-teman kami, dari semua yg menunggu kehadirannya selain ayah-ibu nya
Aku membaca kehendak alam dalam peristiwa, kelak... Tumbuhlah dengan gagah keponakanku sayang, hiduplah dalam kontemplasi mu yang dalam... Semakin tinggi kau akan semakin sendiri, temanmu keyakinan, jalanmu kebenaran. Hiduplah penuh kasih sayang, seperti sepertiga malam yang didatangi pencari maha terkasih. Aku tutup malam,... Aku sambut fajar... Doaku menemani kehadiranmu....
Selamat datang... Panggil saya om icoy saja :)
regard
-M Haikal Sedayo
http://rescogitan.com
Minggu, 17 April 2011
Sabtu, 16 April 2011
tembang asmaradana...
Anjasmara ari mami
mas mirah kulaka warta
dasihmu tan wurung layon
aneng kutha Prabalingga
prang tandhing Wurubhisma
karia mukti wong ayu
pun kakang pamit palastra.
Aku telah coba agar kau temukan diri mu dalam mataku, buat kau temukan jalanmu di langkah ku, tapi tentu kau setara pandawa yang perkasa... jalan menuju hatimu harus kau temukan sendiri, dan aku harus belajar menjadi sekuat anjasmara melepas mu yang "mungkin" tidak akan kembali memeluk malam bersamaku di selimut kusam ini....
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun,
karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti,
yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta,
nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya
disebutkan.
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok
pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara,
ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba,
karena ia tak berani lagi.
Anjasmara, adikku, tinggallah seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.
(Goenawan Mohamad, 1992: 44)
Aku buka genggaman ku yang memaksa kau berada dalam lingkup gaib selimut ini, kau hanya perlu melangkah, maka akan kau masuki hingar bingar stasiun kereta ini, mungkin kau akan menaiki kereta terakhir malam ini, aku di sini menunggu semoga kau kembali atau setidaknya mengingat di mana kita lewati keramain dalam kesepian dibalik dunia ajaib ini, yang hanya ada aku, yang hanya ada kamu.
itu paggilan naik untuk kereta terakhir,... bergegas lah. aku akan segera menyusul, dan akan kumenangkan hatimu kembali.... sebelum itu, biar ku musnahkan dulu selimut gaib ini.
