Sepiring nasi dengan lauk yang menggoda tersaji, sendok dan garpu di tangan. Selamat makan...
Dia datang, usianya sama dengan adik perempuanku yang paling bungsu, sekilas aku lihat tubuh nya ringkih, hanya tersisa kulit membungkus tulang-belulang, sungguh berbeda dengan adik kesayangan ku yang gempal itu. Nasi dengan lauk nya lebih menarik, aku makan, ayam bakar terasa nikmat.
Senjatanya kotak semir, menawari kami jasa untuk membersihkan sepatu, menggosoknya agar kembali bersih- mengkilat. Kami tak bergeming, hanya menghadapkan telapak tangan tanda penolakan. Makanan ini masih terasa nikmat.
Dia duduk di pojok dekat pintu, terkantuk-kantuk, mukanya lapar. Kami usai makan, membayar, lalu melewatinya pulang kembali ke kantor mengerjakan pekerjaan yang entah dengan perut kenyang dan hati senang. Makanan tadi masih terasa nikmatnya.
Hati ini dari apa?? Resistensi itu akhirnya hadir... Membuat mata yang melihat menjadi tak berguna... Memenuhi rongga-rongga hati dengan baja-baja keras yang anti peluru.
Kami ini apa?? Makhluk sosial yang bagaimana?? Mengapa hati tidak mau berempati??
Lalu aku sadar... Sudah lama... Sampai aku lupa... Kapan terakhir kali nurani datang, mengetuk pintu, lalu berbagi secangkir kopi hangat dan selautan cerita.
Terkutuklah!
Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network. Smart.Hebat.Hemat.
aku tulis pemahaman, dan pemikiran ku, agar bisa kukenang sedikit lebih lama pada loncatan waktu tak hingga!
Selasa, 01 Februari 2011
Nyanyian camar
Serupa camar, aku terbang... Masih enggan pulang membuat sarang. Berahi kelana, arah angin yang belum paripurna... Aku.. Di 26 tahun, labil, darah masih membara seakan tidak mau padam, langkah masih berpindah-pindah seolah tidak akan bisa dihentikan waktu yang sedemikian itu punya kuasa.
Lalu kutemukan sepotong sajak dr lailatul kiptiyah, puisi yang menelajangi aku, kamu, dan ke egoisan kita...
_______________________________________
NYANYIAN CAMAR
Petang bagiku adalah sarang
dimana angananganku riang menerawang
membawa lelah dan risauku pulang
di hening dada karang
kubawa serentetan lagu sendu
lewat paruh dan sayapku
setelah kuterdekap gemerlap pagi
tempat kubaringkan penggalan mimpi
kelak tak perlu kutakut pada sepi
di taman surga Illahi
Februari 2011 (1432 H)
Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network. Smart.Hebat.Hemat.
Lalu kutemukan sepotong sajak dr lailatul kiptiyah, puisi yang menelajangi aku, kamu, dan ke egoisan kita...
_______________________________________
NYANYIAN CAMAR
Petang bagiku adalah sarang
dimana angananganku riang menerawang
membawa lelah dan risauku pulang
di hening dada karang
kubawa serentetan lagu sendu
lewat paruh dan sayapku
setelah kuterdekap gemerlap pagi
tempat kubaringkan penggalan mimpi
kelak tak perlu kutakut pada sepi
di taman surga Illahi
Februari 2011 (1432 H)
Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network. Smart.Hebat.Hemat.
Rabu, 26 Januari 2011
Pencapain
Hari ini dihabiskan di hadapan 4 profesor dan 2 doktor,
Hari ini dihabiskan setelah malam panjang yang memaksa saya akhirnya mampu memahami apa yang 3 tahun tidak pernah mampu saya pahami.
Hari ini adalah hari di mana saya merasa tercerahkan, ketika melihat di atas langit masih ada langit, di dimensi yang berbeda langit bisa berubah menjadi bumi.
Hari ini saya menikmati penderitaan menahan kantuk yang sangat, hari ini saya menikmati kebahagian setelah duduk semeja dengan mereka2 yang sempat membuat lidah saya tidak mampu berkata2 ketika sidang akademis pertama.
Terimakasih guru2 ku, ini terimakasih dari dalam hati... Ini terimakasih yang sederhana dari kami.
Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network. Smart.Hebat.Hemat.
Hari ini dihabiskan setelah malam panjang yang memaksa saya akhirnya mampu memahami apa yang 3 tahun tidak pernah mampu saya pahami.
Hari ini adalah hari di mana saya merasa tercerahkan, ketika melihat di atas langit masih ada langit, di dimensi yang berbeda langit bisa berubah menjadi bumi.
Hari ini saya menikmati penderitaan menahan kantuk yang sangat, hari ini saya menikmati kebahagian setelah duduk semeja dengan mereka2 yang sempat membuat lidah saya tidak mampu berkata2 ketika sidang akademis pertama.
Terimakasih guru2 ku, ini terimakasih dari dalam hati... Ini terimakasih yang sederhana dari kami.
Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network. Smart.Hebat.Hemat.
Senin, 10 Januari 2011
Pitutur padi
Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network. Smart.Hebat.Hemat.
-----Original Message-----
From: haikal842001@gmail.com
Date: Mon, 10 Jan 2011 16:46:15
To: Bunga Matahari<bungamatahari@yahoogroups.com>
Reply-To: haikal842001@gmail.com
Subject: Pitutur padi
Dari milis bunga matahari, karya lailatul kiptiyah, puisi yang luar biasa :
Semula
aku adalah benih
yang kau semai dengan doa-doa lirih
lalu hujan jatuh berderak
mengajak cangkulmu menyalami sawah sepetak
tak kutemu musim melangkah mundur
namun tidak denganmu kala tandur
hingga kau pun rela bergelung dalam saung-sinung menjagaku
dari sergapan hama wereng hingga belitan benalu
agar tubuhku mumpuni tumbuh merunduk meninggi
merunduk meninggi menaungi isi
mangajar ilmu hidup yang hakiki
yang sabar kau hirup lewat harum jerami
lalu musim berganti
Tuhan me-rahmati
mengisi celung lesungmu
dengan biji-bijiku yang serupa bentuk
benih-benih yang kau semai
dengan serbuk-serbuk doa yang tawadu'
Jakarta, 05 Januari 2010 (29 Muharram 1432 H)
Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network. Smart.Hebat.Hemat.
-----Original Message-----
From: haikal842001@gmail.com
Date: Mon, 10 Jan 2011 16:46:15
To: Bunga Matahari<bungamatahari@yahoogroups.com>
Reply-To: haikal842001@gmail.com
Subject: Pitutur padi
Dari milis bunga matahari, karya lailatul kiptiyah, puisi yang luar biasa :
Semula
aku adalah benih
yang kau semai dengan doa-doa lirih
lalu hujan jatuh berderak
mengajak cangkulmu menyalami sawah sepetak
tak kutemu musim melangkah mundur
namun tidak denganmu kala tandur
hingga kau pun rela bergelung dalam saung-sinung menjagaku
dari sergapan hama wereng hingga belitan benalu
agar tubuhku mumpuni tumbuh merunduk meninggi
merunduk meninggi menaungi isi
mangajar ilmu hidup yang hakiki
yang sabar kau hirup lewat harum jerami
lalu musim berganti
Tuhan me-rahmati
mengisi celung lesungmu
dengan biji-bijiku yang serupa bentuk
benih-benih yang kau semai
dengan serbuk-serbuk doa yang tawadu'
Jakarta, 05 Januari 2010 (29 Muharram 1432 H)
Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network. Smart.Hebat.Hemat.
Sabtu, 01 Januari 2011
... Saya adalah perwujudan keinginan saya, seperti kami adalah cerminan keinginan kami
Pernahkah kamu terasing di mana kamu berada dalam lingkung besar orang-orang sedarah? Seperti itulah yang saya rasa sekarang :) saya memang tidak pernah perlu keberadaan mereka, pun selama ini mereka tidak menyentuhkan kuas apa-apa di kehidupan saya, hanya sedikit sekali yang memiliki keterkaitan kisah hingga 27 tahun saya hadir di dunia ini.
Ada pria gendut berkacamata bersama istrinya, mengaku uwak saya, memaksa-maksa saya menikah, apa mereka tahu macam mana hidup saya? Apa mereka pikir hidup saya baik-baik saja setelah papa meninggalkan kami dengan egoisnya menuju ketenangan yang kekal?
Saya, sungguh tidak merasa nyaman dengan diminta dan dipaksa-paksa. Apapun yang saya lakukan adalah keputusan saya, dan apapun yang kami lakukan adalah keputusan kami, saya tidak menolak seandainya itu hanya saran atau dorongan sebagaimana yang selama ini sudah sering saya dengar, sayang nya mereka mulai seperti ingin mengatur langkah saya.
Baiklah paman gendut dan bibi yang baik hati. Pertama aku ingin kalian dengarkan ini baik-baik : saya adalah pemberontak, dan akan saya yakinkan kalian bahwa kalian semua dan penjara kata-kata itu tidak akan mampu mendikte langkah dan keputusan saya!
Termasuk kenapa saya tidak mengenakan pakaian resmi hari ini, terimakasih :)
Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network. Smart.Hebat.Hemat.
Ada pria gendut berkacamata bersama istrinya, mengaku uwak saya, memaksa-maksa saya menikah, apa mereka tahu macam mana hidup saya? Apa mereka pikir hidup saya baik-baik saja setelah papa meninggalkan kami dengan egoisnya menuju ketenangan yang kekal?
Saya, sungguh tidak merasa nyaman dengan diminta dan dipaksa-paksa. Apapun yang saya lakukan adalah keputusan saya, dan apapun yang kami lakukan adalah keputusan kami, saya tidak menolak seandainya itu hanya saran atau dorongan sebagaimana yang selama ini sudah sering saya dengar, sayang nya mereka mulai seperti ingin mengatur langkah saya.
Baiklah paman gendut dan bibi yang baik hati. Pertama aku ingin kalian dengarkan ini baik-baik : saya adalah pemberontak, dan akan saya yakinkan kalian bahwa kalian semua dan penjara kata-kata itu tidak akan mampu mendikte langkah dan keputusan saya!
Termasuk kenapa saya tidak mengenakan pakaian resmi hari ini, terimakasih :)
Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network. Smart.Hebat.Hemat.
Selasa, 14 Desember 2010
Sepi
Sepi, mari kesini... kita bercinta lagi. hampa... kukira kau sudah jauh, ternyata masih di depan pintu. Gelap, datanglah... peluk aku yang erat ya... topang kaki yang rapuh, kali ini aku mengadu, padamu... iya, padamu
Senin, 13 Desember 2010
Ruang
Ada sisi yang kosong saat kau pergi
Dan tidak terisi lagi saat kau kembali.
Bisakah kau buang semua, dan kembali seperti saat kau pergi?
Saperti hujan... Selalu hadir kembali sebagaimana dia pernah pergi. Tiap tetesnya cerita, tentang rindu bertemu bumi.
Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network. Smart.Hebat.Hemat.
Dan tidak terisi lagi saat kau kembali.
Bisakah kau buang semua, dan kembali seperti saat kau pergi?
Saperti hujan... Selalu hadir kembali sebagaimana dia pernah pergi. Tiap tetesnya cerita, tentang rindu bertemu bumi.
Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network. Smart.Hebat.Hemat.
Langganan:
Postingan (Atom)