Halaman

Selasa, 14 Desember 2010

Sepi

Sepi, mari kesini... kita bercinta lagi. hampa... kukira kau sudah jauh, ternyata masih di depan pintu. Gelap, datanglah... peluk aku yang erat ya... topang kaki yang rapuh, kali ini aku mengadu, padamu... iya, padamu

Senin, 13 Desember 2010

Ruang

Ada sisi yang kosong saat kau pergi
Dan tidak terisi lagi saat kau kembali.

Bisakah kau buang semua, dan kembali seperti saat kau pergi?

Saperti hujan... Selalu hadir kembali sebagaimana dia pernah pergi. Tiap tetesnya cerita, tentang rindu bertemu bumi.
Sent from my BlackBerry® via Smart 1x / EVDO Network. Smart.Hebat.Hemat.

Minggu, 28 November 2010

Mencari Jarum Dalam Jerami

Mencari wajah penegak hukum yang jujur di Indonesia seperti pepatah lama pada judul postingan ini. seperti mencari jarum dalam jerami, mungkin sekali ada, namun susah ditemukan apalagi diangkat kepermukaan.

adalah seorang tokoh pemimpin mahkamah konstitusi saat ini, Mahfud MD yang nama nya berkibar sejak menyiarkan rekaman pembicaraan rahasia tentang kriminalisasi KPK saat kasus penyuapan kepada kedua pimpinan KPK mecuat beberapa saat lalu.

sekarang, lembaga yang dipimpinnya diduga telah dirasuki oleh perilaku korup, suap menyuap dalam berperkara di MK disinyalir mencapai milyaran rupiah. begitu yang ditulis seorang kritikus.

dan tindakan bung mahfud MD menyikapi kritik itu adalah sesuatu yang ingin saya kenang kali ini, ingin saya ingat baik-baik, dan bila tiba masanya saya menghadapi masalah yang sama, hal seperti lagkah beliau inilah yang menjadi harapan saya di masa sekarang, akan dilakukan oleh saya di masa yang akan datang.

saya tidak menganggap orang ini dewa, saya tahu dia manusia yang tidak lepas dari segala kekurangan, bila dia salah di suatu sisi nanti di fase hidupnya, semoga saya punya kesempatan kembali ke blog ini untuk menghujat dan mendoakan kebaikan mengiringi langkahnya.

di tengah keputusasaan mencari tokoh hoegeng yang hidup di masa ini, tindakan beliau kali ini memberi sedikit harapan. kepada saya saja??? tidak! kepada Indonesia!

berani bertindak! menerima dikritik! tidak takut di investigasi secara terbuka bila benar! sesuai antara kata-kata dan tindakan nyata!

berikut apa yang beliau tulis, dan sekarang tengah berjalan persis seperti apa yang ditulis:

http://nasional.kompas.com/read/2010/11/10/0330258/MK.Minta.Tolong.pada.Refly

MK Minta Tolong pada Refly
Rabu, 10 November 2010 | 03:30 WIB

Moh Mahfud MD

Di pesawat Garuda rute Yogyakarta- Jakarta, 25 Oktober 2010 pagi, saya kaget dan lemas setelah membaca satu artikel di harian Kompas. Refly Harun, ahli hukum konstitusi yang cemerlang, menulis dengan gagah bahwa dirinya pernah mendengar dan melihat sendiri praktik suap dalam berperkara di Mahkamah Konstitusi.

Dia menulis bahwa dia mendengar pernyataan orang Papua yang pernah berperkara di MK yang harus menghabiskan uang Rp 10 miliar hingga Rp 12 miliar. Dia bertemu orang yang ditelepon oleh hakim MK agar menyerahkan uang Rp 1 miliar untuk keperluan perkaranya sehingga dia terpaksa menarik perkara itu karena tidak punya uang seperti diminta oleh hakim MK.

Dia juga mengaku melihat sendiri tumpukan uang senilai Rp 1 miliar dalam bentuk dollar AS yang katanya akan diserahkan kepada hakim MK. Membaca artikel itu jantung saya berdegup kencang, keringat dingin mengucur, kepala jadi pening. Saya minta secangkir teh panas kepada pramugari untuk menenangkan diri, kemudian saya tercenung karena sedih dan malu.

Refly Harun adalah aktivis penegakan hukum dan demokrasi yang dikenal cerdas dan kredibel. Tentu dia tak sembarangan menulis, pasti bisa dipertanggungjawabkan. Saya sedih dan malu karena ”permainan perkara” yang dilihat dan didengar Refly itu telah terjadi di MK.

Saya sedih dan malu karena selama dua tahun lebih memimpin MK saya selalu melakukan pengawasan. Banyak isu berseliweran bahwa ada suap di MK, tetapi setelah diselidiki dengan berbagai cara tak pernah ada buktinya. Jangankan bukti, indikasi saja tak ditemukan. Semua hanya bersumber dari pesan singkat (SMS) gelap, surat kaleng, dan isu dari mulut ke mulut yang tak bisa dirunut dan diruntut ujung dan pangkalnya.

Sudah berkali-kali saya umumkan di depan sidang resmi terbuka untuk umum bahwa siapa pun yang diminta uang oleh siapa pun dalam berperkara di MK supaya melapor kepada saya atau kepada polisi. Sudah puluhan kali saya melakukan jumpa pers, menjelaskan adanya penipuan dari orang yang mengaku pejabat dan hakim MK yang pelakunya menggunakan nomor telepon seluler (handphone) tertentu, tetapi setelah dilacak hilang. Nomor telepon seluler dan nama korbannya sudah saya umumkan di koran-koran dan dilaporkan kepada polisi.

Pola penipuan

Selama dua tahun lebih saya selalu mengendus pola penipuan seperti itu, orang yang mengaku pejabat MK memeras orang yang berperkara di MK. Saya terus bekerja untuk mengintai dan memburu info tentang hal ini, tetapi tak pernah menemukan, jangankan bukti, indikasi saja tidak ada kalau di dalam MK. Seperti dikatakan Jimly Asshiddiqie, MK itu bekerja dengan sistem dan mekanisme saling kontrol yang mantap sehingga sangat sulit ada mafia perkara.

Itulah sebabnya, tiga minggu yang lalu, secara terbuka saya menantang siapa pun yang punya bukti awal saja untuk melapor kepada saya kalau ada permainan suap dalam penanganan perkara di MK. Orang itu akan saya belikan tiket pesawat untuk datang melapor kepada saya plus menginap di hotel berbintang, asal ada nama jelas yang bisa dipertanggungjawabkan dan bukan hanya katanya, katanya, dan kabarnya.

Kemudian muncullah Refly yang menulis dengan gagah bahwa dirinya melihat dan mendengar sendiri orang yang mengeluarkan belasan miliar rupiah untuk berperkara di MK, pencari keadilan yang diminta menyetor uang atau diperas oleh hakim MK, dan orang yang akan menyuap hakim dengan uang dollar AS. Refly juga mengusulkan agar MK melakukan investigasi internal. Bukankah bukti awal seperti ini yang selalu saya cari?

MK melakukan langkah dengan sadar, meminta tolong kepada Refly untuk mengungkap kasus ini dengan mengangkatnya menjadi ketua tim investigasi. MK tak mau membentuk tim investigasi internal karena investigasi internal sudah berjalan rutin dan mantap serta tak berhasil menemukan mafia dalam bentuk apa pun.

MK malah melakukan lebih dari sekadar investigasi internal, yakni membentuk tim investigasi dari orang-orang eksternal yang kredibel di bawah pimpinan orang yang mengaku melihat dan mendengar sendiri. Lagi pula kalau hanya investigasi internal, MK bisa dituduh tidak fair dan menyembunyikan sesuatu. Refly diminta mengusulkan dua anggota lainnya, siapa pun yang dia mau, sedangkan MK juga akan menunjuk dua orang lainnya. Apa ada yang lebih fair dari cara ini?

Kini tim sudah terbentuk. Refly sudah mengusulkan nama Adnan Buyung Nasution dan Bambang Harimurti, dua nama yang sangat kredibel. MK pun tak mau memasukkan orang MK di dalam tim itu agar investigasi berjalan obyektif. MK menunjuk Bambang Widjojanto dan Saldi Isra, dua nama yang juga dikenal sangat bersih dan patriotik dalam penegakan hukum.

MK tidak memusuhi Refly karena dia adalah mitra kerja yang baik dan idealis. MK hanya meminta tolong untuk bekerja sama guna membersihkan MK yang menurut tulisannya digerogoti oleh suap-menyuap. Sebagai intelektual-pejuang, Refly pasti tak akan berkelit dengan hanya akan membahas soal-soal semantik dari tulisannya itu.

Kalau di MK memang ada suap-menyuap, mari kita bawa hakim pelakunya ke penjara, tetapi kalau tim Refly tidak menemukannya, marwah MK harus dikembalikan dengan cara yang terhormat. Masyarakat tak boleh dibuat putus asa. Masyarakat harus diberi harapan bahwa di negeri ini masih ada lembaga peradilan yang mau bekerja dengan patriotik, bermartabat, dan penuh kehormatan, seperti ditulis oleh Satjipto Rahardjo dalam Kompas tanggal 14 Juli 2009.

Moh Mahfud MD Ketua Mahkamah Konstitusi

Jumat, 05 November 2010

Selasa, 02 November 2010

Langit Biru

seorang sahabat sangat mengagumi biru...
"biru itu kedalaman", katanya kala itu, "iya" aku menimpali sambil memandang laut di bawah ferry yang kami tumpangi, "Biru itu keluasan" lirih katanya, "iya" aku menyahut kemudian ikut memandangi langit di atas selat sunda itu.

merapi boleh saja meletus, busur depan sumatera boleh saja berguncang berkali-kali, banjir boleh saja tiba-tiba menerjang.

semua akan baik-baik saja, saya berdoa "kedalaman" dan "keluasan" memenuhi hati penghuni negeri ini, memenuhi denyut nadi pemimpin-pemimpinnya, mengaliri darah para ilmuwannya.

semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja!

pengalaman harus mengajarkan kita menjadi lebih baik! iya, harus!

Kamis, 28 Oktober 2010

kramat raya, 0ktober 1928

para pengajar dan mahasiswa stovia pada mula-nya, boedi oetomo sang pelopor, lalu PPI lahir sebagai anak dari perjuangan, lantas M Yamin dan kawan-kawan memujudkan mimpinya di gedung 106 kramat raya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ingin rasanya menjadi hatta yang punya 2 istri ; rahmi rachim...... dan Indonesia!

mampukah saya??

Senin, 11 Oktober 2010

Di titik ini!

di titik ini, di mana aku mengingat betapa jarak tidak selalu membuat orang menjadi lebih dekat. masing-masing dunia kita sudah menjadi begitu asing. aku bukan lagi bagian penting dari petualangan kalian, pun kalian juga begitu buatku. teruntuk kalian berdua yang menuliskan semangat dan dasar-dasar aku meletakkan mimpi, aku tulis lintasan ini, agar bisa kuingat sedikit lebih lama, agar tidak segera hilang bersenyawa dengan udara. malam dingin...

iya, tidak mudah... harus aku akui tidak mudah bagiku mewujudkannya. tapi entah kalian ingat atau tidak aku rasanya harus berterimakasih, aku rasanya harus menantang kalian lagi, mengingatkan tentang cita-cita yang sama, yang entah kalian ingat atau tidak lagi sekarang menjadi landasan pacu, lintasan mimpi, jalan panjang yang ingin aku tempuh.

kisah itu di bawah pohon rindang, di samping lapangan basket, saat kita saling berhadapan di batasi meja catur dari semen. "kita tidak pintar!" begitu kesimpulan percakapan dalam permainan koma-koma tanpa titik itu. iya, itu titik saat kita mengakui kebodohan, saat kita insyaf bahwa kita harus meninggalkan kota kaki gunung yang damai itu sementara. saat kita memutuskan, seberat apapun jalan yang terlihat di luar sana, kita akan bertahan.

mungkin kau tidak menyadarinya saat itu, tapi biarlah kukatakan kepadamu kawan, itu titik balik saat aku memutuskan tidak akan berhenti. aku ingin mengerti tentang hidup, aku ingin mengenali maut, aku mau tahu matematika, aku ingin bisa memetik gitar, aku ingin mendaki puncak gunung, aku mau menikmati sepi, aku ingin tenggelam dalam ramai, aku dan kamu juga saat itu... ingin memahami dunia! dari mu aku belajar untuk tidak pernah merasa cukup, untuk menikmati hidup dalam pencarian, dan pencapaian bukan apa-apa dibanding pemahaman menuju-Nya.

telpon ku berdering, sebuah pesan singkat dari mu."aku ke jakarta selasa atau rabu, berkas-berkas harus diserahkan!" iya kawan, aku bahagia tidak hanya untuk mimpi-mimpi mu yang terbentang di depan mata untuk belajar di kelas dan kampus yang sama dengan einstein si biang "relativitas", tapi juga untuk mimpi-mimpi ku untuk terus bergerak tanpa berhenti karena semangat darimu kala itu, ketika kita hijau, muda, dan penuh gairah di meja catur samping lapangan basket!
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
kisah itu dari sebuah atap kos-kosan. aku, kamu juga kawan, masih merah, muda, dan marah. entahlah dengan kamu, tapi aku mengingat jelas, saat malam itu dihabiskan dengan menatap bintang hingga pajar merekah, bandung di banjiri cahaya pagi, baru masing-masing kita memasuki kamar dan tidur hingga hari menjadi tinggi.

kita bicara tentang apa saja, tentang cinta dengan segala tetek bengeknya, tentang hidup, tentang mati, tentang Dia yang penyebutannya selalu diawali huruf kapital, tentang puisi, tentang mimpi dan tentang perjalanan.

sampai saat itu kamu menyimpulkan aku seorang ekstrovet saking banyaknya aku bicara.

iya. ini tentang perjalanan. di sana... di atas atap kos-kosan yang ramah kau pernah berkata untuk mengelilingi Indonesia. aku juga. ketika kemudian hari aku tahu mengelilingi Indonesia yang sama-sama kita cintai ini memiliki arti yang sama sekali jauh berbeda meski malam itu kau dan aku mengucapkan nya dengan wording yang sama.

perjalanan hidup mengantarkanku untuk mengunjungi tempat-tempat yang dulu inginku kunjungi, dan aku telah menyelesaikan perjalanan " keliling nusantara" dalam perpekstif ku malam itu! setelah ini, jika kau ingat... maka langkah harus dilanjutkan. apa artinya perjalanan? tanyamu malam itu. dan kau menyimpulkan perjalanan itu selalu perlu, agar lelaki tahu indahnya pulang dan tujuan adalah menjadi orang yang berguna sebanyak-banyak untuk orang lain. aku sudah berjalan kawan, pun kau, hingga sampai tikungan membawa kita ke jalan masing-masing. kau di arah yang benar menurutku meski sayangnya aku mungkin tidak :(

aku sampai di sebuah tubir yang harus aku jelajahi ruang tak tentunya, jangan kan nanti... sekarang saja sebelum masuk ke sana bahkan sekedar ulang tahun mu aku tak ingat. biarlah ku katakan kepadamu dan kepadaku sendiri: jika kau lihat aku memaksamu, jika kau merasa aku menyinggung mu, maka maafkanlah kawan, bukan maksudku memaksamu menghasilkan sesuatu yang tidak kau inginkan, bukan pula sok pandai atau sok jago bila aku bilang ayo kita kerjakan, aku bantu!

ada rasa bersalah saat aku melihat kakimu terbelenggu! langsung ataupun tidak rasanya ada dosaku bila sampai kau teracuni knalpot beracun ibukota dan kemerdekaan melemah di dalam dirimu.

kaki ku sudah di pinggir tubir jurang ini kawan! kelak aku tidak akan bisa mereguk semangat mu lagi, kelak aku akan bergerak di duniaku sendiri, aku hanya ingin kemerdekaan buatmu kawan seperti aku ingin merdeka untuk diriku sendiri. kau adalah pejalan! maka kuat-kuatkan hati mu untuk melangkah. aku melihat masa depan di salah satu tangan mu. aku melihat kau mulai bertumbuh... dan wadah yang sekarang menjadi terlalu sempit buatmu...

dengan doa kepada tangan yang menulis semua cerita! selamat ulang tahun kawan...
aku tidak punya apa-apa, anggap saja cerita ini kado kecilku untuk membalas semangat yang dulu kau berikan.
--------------------

Lalu hanya dengan melihat kalian berdua bergerak... lalu hanya dengan memandang kiprah kalian dari jauh... aku menemukan keteguhan dalam diriku... sekali lagi, ini untuk kalian : terimakasih dari hati.

malam semakin dingin...