Halaman

Kamis, 01 Desember 2011

Next

Akhirnya besok harus melewati lagi fase selanjutnya di putaran waktu yang masih tak kenal ampun seperti dulu :)

I'm getting merried! Wow... Can you imagine that :D

And I will not be lone ranger anymore but two hehehe

Sometime, rasa takut itu datang. Apa perempuan ini akan bersama geloramu yang membara, atau dia akan menjadi air yang memadamkan apimu?

Aku masih semerah dulu meski tak menggelegak seganas neraka, akankah fase ini membunuh mimpi-mimpi dan menggantikannya dengan mimpi-mimpi baru, atau bahkan membuat kita tidak akan mampu lagi bermimpi karena diteror realita dan segala keterbatasan yang ada?

Aku mencintaimu perempuanku, untuk itu telah kuserahkan separuh hatiku dan kini segenap hidupku untuk bersamamu.

Akankah kemudian kita menjadi lebih sibuk memikirkan mobil, rumah, uang ketimbang belajar, bercinta, mencintai, memberi dan berbakti?

Kita tidak pernah tahu seperti apa jalanan di depan sana, perkuat genggaman mu sayang, peluk aku.

Aku percaya kau akan bersamaku menghadapi badai apapun setelah ini. Dan aku hanya mampu berjanji mencintaimu segenap hati dengan seluruh jiwa raga hingga dipisahkan maut. (Dan tidak akan berpoligami dengan alasan apapun tentu saja hehehehe)

Ingatkan aku saat memandang sinis pengemis yang lewat atau tidak berempati pada bapak penjual sapu di simpang jalan itu. Hal-hal sederhana yang begitu aku kagumi darimu :)

Peluk cium untukmu, bismillah mari melangkah :)
regards

-M Haikal Sedayo
http://rescogitan.com

Kamis, 17 November 2011

Cincin

di jarimu kusematkan lingkar cinta, polos tanpa aksen rupa-rupa
di hatiku kau talikan jangkar, hingga terikat sudah segala rasa berpulang padamu.

Ini kupilihkan sebuah lambang untukmu, percayalah; kesederhanaan membuat kita lebih mensyukuri cinta.

kupasangkan di jari manismu, di sebelah kelingking yang diam-diam bergetar
di hadapan aku yang diam-diam luruh :)

Rabu, 09 November 2011

Renungan tentang kematian sebelum ulang tahun

Hampir 27 tahun sudah, mungkin sudah sepertiga usia atau bisa jadi lebih pendek lagi, tentu bukan kita yang tahu. Akupun ingin hidup seribu tahun seperti chairil anwar, tapi kematian bukanlah lawan yang bisa benar-benar kau tipu seperti dalam dongeng-dongeng yunani.

Kamis, 29 September 2011

Doa

ada harap pribadi yang tersimpan rapat di ruang pinta,
mereka menuduh ku sombong tak menyampaikan asa dalam doa-doaku
tapi tentu kau maha tahu tak usalah padamu aku berkeluh

mereka bicara betapa dekat jarak antara kita, seolah mereka benar-benar bisa merasakan hadirmu, dan aku tidak percaya
tapi tentu kau yang paling tahu

aku dengar nyanyian hujan, aku meresapi kekosongan malam, aku memahami kompleksitas yang kau ciptakan untuk menyangga keseimbangan dengan sempurna, aku membaca kalam serta merenungi zikir bulan dalam secangkir kopi, tapi kau masih jauh.

tak usalah aku berkeluh tentang betapa rindu merasakan kembali hadirmu
karena kau adalah dikara tempat berpulang segala rindu

kapan kau hadir lagi di sujud-sujudku tuhan?

Kamis, 25 Agustus 2011

Between Jobs and Apple

Bagi Apple dan dunia desain teknologi komputer, Steve jobs adalah ayah. Dalam dunia gadget, dia adalah tokoh fenomenal, legenda hidup yang lahir dari larisnya ipod, itunes, imac, iphone dan ipad. Langkah jobs saat kembali ke Apple setelah hengkang sebelumnya akibat berselisih paham dengan CEO Apple ketika itu adalah menarik licensi software apple yang beredar di pihak luar. Jobs, menentang pendapat dunia ketika itu dan dia mengalahkannya.

Ada masanya ketika kehadiran Jobs bak dewa yang membawa agama baru di atas kendaraan ajaibnya yang bernama Apple, dia dikritik, dihina, dijegal, namun semua orang menyadari.... Dunia sekarang akan berbeda tanpa hadirnya jobs.

sejatinya Jobs tetap manusia yang pernah mengalami kegagalan, Lisa anak pertama Jobs (seorang putri cantik dari pacarnya dan nama komputer produksi massal terbesar pertama yang lahir dari idenya) merupakan kemanusiawian seorang jobs :)

Beberapa pengamat mengatakan Apple tanpa jobs akan seperti microsoft tanpa gates atau seperti masakan tanpa garam agar lebih mudah kita pahami :p

Jobs mengalami gangguan kesehatan yang serius di setengah abad umurnya yang berharga. Bagi saya, job adalah visioner, pengusaha andal, pengatur siasat ulung, jenderal besar dalam perang kompetisi global. Saya sadar banyak orang hebat di silicon valley selain Jobs, namun bagi saya dia tetap yang terbaik di antara mereka.

kasihan tim Cook yang harus memikul beban yang ditinggalkan Jobs.tidak mudah menggantikan seorang legenda seperti Jobs saya ingat bagaimana sulitnya ke tiga pengganti mahapatih gajahmada memikul beban yang biasanya disandang oleh sang legenda yang memutuskan untuk pensiun dan menjalani tapa brata, bukan bermaksud membandingkan gajah mada dengan jobs, tapi saya membandingkan penggantinya hehehehe :)

Mungkin masa-masa Jobs sudah selesai, hingga saat ini belum muncul bintang utara yang baru yang mungkin bisa menyamai Jobs, tapi dunia pasti merindukan lahirnya orang-orang seperti Jobs.

Jobs belum benar-benar pergi, dia masih bersama kita dan duduk manis sebagai chairman of board Apple, mendampingi Apple di masa sulitnya. Bagi Jobs saat ini mungkin seperti saat seorang ibu menyapih bayinya. Hal yang sulit, bagi ibu maupun bagi bayi, tapi mereka tahu bahwa they should do this!

I dont even know you personally Jobs, tapi semoga kamu sehat-sehat selalu. Seperti Gie, Copernicus, Guevara, Heisenberg, Fourier saya mengagumi anda dan mereka.

Jumat, 19 Agustus 2011

Menghargai Wanita

Topik ini bukan sekali dua kali aku dengar dan aku baca, tidak pernah sungguh-sungguh kutempatkan dalam salah satu sudut di kamar pemikiranku untuk ditelaah dan dilihat lebih dalam. Seperti dogma agama kewajiban untuk menghormati wanita sudah mengakar pada darah kami orang melayu, ajaran nabi menyebut ibu tiga kali lebih dulu untuk dihormati sebelum menghormati ayah yang menghidupi keluarga. Aku yang dihadiahi 3 adik perempuan oleh kedua orang tua ku diingatkan betul-betul untuk menghormati makhluk yang diciptakan dari rusuk lelaki kesepian di surga tuhan yang indah namun hampa. Kesetian mama, rasa sayang pada ketiga adik-adik ku dan doa mereka yang menguatkanku adalah ajaran tanpa kata-kata yang bersemayam di pembuluh-pembuluh darahku untuk mengingatkanku agar menghargai kaum hawa, makhluk yang kerap menjelma rindu, nafsu, sayap malaikat, tak jarang menjelma tanduk-tanduk setan dari neraka yang paling panas (paling dingin???).

Bandung dingin malam itu, aku baru selesai mengantarkan pacarku pulang. Menumpang taksi abu-abu aku pulang menuju hotel di dekat sebuah kampus di mana besok aku harus kembali mengikuti kuliah umum tentang gerakan beberapa cm kerak bumi setiap tahun dan hubungannya dengan kegempaan. Taksi melaju pelan, meski argonya tetap kencang, 50.000 rupiah tertera di argo itu saat aku sampai di tujuan dan melirik argometer sebelum melihat isi dompet hadiah ulang tahun yang setia setahun ini menempel di pantatku serupa bisul ku bawa kemana-mana.

Seorang perempuan muda berlari sambil menangis, lelaki muda dengan muka tidak kalah jelek dengan kelakuannya mengejar, menarik tangannya dengan kasar, menyentakkan tubuhnya, menghempaskan perempuan itu kepelukannya, menarik pakaiannya, mendorongnya kembali ke tempat semula. Perempuan itu melawan, apa daya tenaganya kalah jauh tentu saja. Kasihan dia... Air matanya penuh, dia dipaksa masuk kembali ke sebuah restoran. Rambutnya sudah kusut, pakaiannya kusut, lelaki sampah itu tidak peduli, terus setengah menyeret membawanya kembali. Aku marah, ingin rasanya berteriak memaki monyet berkelamin laki-laki yang menyaru manusia itu... Niat kubatalkan demi melihat perempuan muda itu luruh dan akhirnya sesegukan di bahu manusia kera yang ternyata sudah terlanjur mencuri hatinya itu. Dia di kalahkan cinta! Seperti hampir semua kita juga.

Tidak bisakah lelaki monyet itu bertindak sedikit lebih lembut dan bersahabat pada perempuannya?

Tuhanku... Mulai sekarang aku akan menghitung permintaanku kepadamu. Permintaan pertama yang kuhitung ini adalah agar kau lindungi aku dari sikap kasar terhadap makhluk mulia yang kau berikan perintahkan untuk menjadi insan yang harus dihormati tiga kali lebih utama dari kaum ku dan permintaanku yang kedua adalah agar aku tetap manusia, tidak menjadi monyet!

Regard


Haikal Sedayo

Jumat, 22 Juli 2011

Merienplatzt, saat hati mengembara sendiri....

Gelap datang selalu terlambat di sini, dia senang mengulur-ngulur waktu membiarkan matahari bersinar lebih lama menggoda kami yang menunggunya sedari tadi. Pelan-pelan dengan anggun jubahnya menyelimuti stasiun yang mulai sepi dan hinggap di gelas-gelas bir serta pundak-pundak telanjang perempuan penjaja cinta di pelataran city hall yang megah itu.

Lensa kamera masih terbuka, dengan perlahan terus mengabadikan kemerlap cahaya yang muncul menemani hadirnya gelap. Sedang hati sedari tadi berkelana entah kemana. Dia mau menemui orang-orang terkasih, dia mau pergi ke dunia para peri.

Aku mencium wajah kaku mu yang dingin, aku mengusap seluruh tubuhmu sebelum membalutnya dengan kain kaku yang menjadi pakaian terakhirmu, dan aku; dengan tanganku sendiri membaringkan mu di tempat itu.

Dua puluh dua tahun yang lalu kau membawaku dengan sepeda motor melintasi kota kecil kita, membawaku ke pasar sederhana agar bisa kau pilihkan pakaian terbaik menyambut ramadhan. Setelah kita sepakat dengan setelan mana yang akan dibeli, kau akan membayarnya dan menyerahkannya kepadaku untuk di bawa, dan aku ingat betapa erat bungkusan pakaian itu aku dekap seolah takut kehilangan. Kau mengusap kepalaku ketika itu, kelak terbanglah, semoga sayapmu terentang ke angkasa; kau berdoa, dan aku benar2 tidak mengerti.

Aku meninggalkanmu saat zaman seolah membuat jurang di antara kita, dan sebelum sempat aku kembali serta berterimakasih untuk harapanmu dua puluh dua tahun yang lalu, kau sudah harus melanjutkan perjalananmu.

Pada akhirnya kami tidak akan pernah lagi menjumpai wajahmu selain dalam kenangan seperti saat ini, membawa harapan mu dua puluh dua tahun yang lalu, kami berjalan dan aku melintasi samudera itu. Dentang lonceng dari katedral menyadarkanku dan di bawah patung bayi yesus di buaian perawan mariam aku berdoa kepada tangan yang menuliskan nasib dalam lauhul mahfuz, semoga damai yang kau cari kau temukan di sana, dan semoga kelak aku bisa kembali dengan jutaan terimakasih kepadamu.

Ramadhan segera datang lagi pa, meski tidak akan pernah sama dengan yang dulu, saat aku begitu menyukai pakaian baru dan kamu.

Aku benci pemakaman!